Ranking Blog semesthidayah

Senin, 12 Januari 2009

Mlm berganti siang, tapi malam mingintai untuk menggantikan siang.
Bulan bersinar, terang menerangi gelap malamku waktu sunyi syahdu itu.
Gemercik suara air hujan gerimis, seakan mengajakku berbicara.
Tapi aku tetap terdiam, terdiam meresapi sesuatu.
Sesuatu yang masih sangat asing bagiku.
Ia laksana angin yang membelaiku sewaktu tidurku.
Ia laksana burung yang selalu memberiku hiburan diwaktu bingungku.
Tapi aku berpikir, dan terus berpikir mengapa dia selalu tak seindah yang kupikir, tak sebaik yang kutahu, tak sepintar yang kukenal.
Aku baru sadar, ia bukan siapa-siapa untukku.
Ia hanyalah hamba allah yang berusaha menghamba pada-Nya.
Aku tak dapat menafikkan hatiku dengan akalku bahwa dia bukan siapa-siapa.
Ia sesuatu yang tak dapat tercerna oleh akalku, sulit dimengerti.
Apakah cinta itu?
Apakah cinta itu selalu pada seorang gadis atau lelaki?
Mengapa cinta itu ada dalam diri manusia?
Apakah manusia butuh cinta untuk hidupnya?
Allah 'azza wa jalla telah menganugerahi kita suatu cahaya tersembunyi.
Cahaya itu bersembunyi dalam hati.
Tak terlihat dan tak terdeteksi.
Ia ada dengan sendirinya, tanpa sepengetahuanku.
Cinta.
Sebenarnya siapa dirimu?
Sesaat kau hibur aku dengan canda tapi kau hancurkan aku bagai keping-keping kecil berserakan setelah kau tau aku bukanlah aku.
Aku mengerti.
Cinta adalah nafsu.
Ia takkan berhenti jika tak dikendalikan akal.
Karena hanya akal pengendali nafsu.
Tapi cinta yang anugerahkan pada manusia adalah cinta yang suci.
Cinta yang hanya dimengerti makhluk terhadap khaliq.
Jagalah cintamu pada yang menciptakan cinta.
Niscaya sang pencipta cinta akan menjagamu dengan cinta.
Karena cinta bukanlah hati.
Cinta bukanlah jiwa.
Cinta bukanlah rasa.
Tapi cinta adalah cita dan pengharapan.
Agar kita dekat pada-Nya.
Agar kita mengenal sang pencipta lewat cinta.
Lewat cinta manusia bertutur.
Lewat cinta manusia berpikir.
Jadikanlah cinta kepada allah jalan bertutur dan pikiranmu.
Karna cinta itu buta.
Bantulah ia dengan penerangan hidayah Allah.
Hidayah allah dan cinta bagai dua hal yang tak dapat dipisahkan.
Mereka saling memberi dan menutupi.
Mereka bagai hubungan proton dan elektron dalam atom.
Ketika salah satunya saja tak ada.
Berakibat pada atom itu sendiri.
Bahkan bukan hanya atom itu yang terpengaruh,
tapi juga atom yang lain.
Atom akan menolak atom yang lain(orang terdekat).
Itulah hidayah allah menciptakannya.
Allah ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.


Met jatuh cinta for all.....
Tetep jaga iman lewat lisan.
Jaga diri lewat akhlaq al-karimah.

Sabtu, 03 Januari 2009

Save Our Palestina

Oh... Manusia, kau tak hanya ada didunia membabi buta tak tahu arah tujuan nan jelas dimana. Tapi saat kelam gulita nan gelap membutakan mata, engkau wahai rasul pilihan, engkau datang membawa risalah ilahi nan terang benderang, membuka mata manusia yang saat itu tertutup gelapnya zaman.

engkau laksana embun penyejuk dikala kehausan manusia dipadang nan gersang tertutup ilalang pemandangan setan yang menyesatkan. Engkau rasul pilihan, penutup semua rasul allah nan gagah di medan tempur laga zaman. Tapi mengapa kepergian engkau tak menghadirkan angin segar. Kaum kafir sedang gencar menghancur. Menghancur apapun yang mereka anggap menghadang. Entah itu rumah-rumah Muslim tak bersalah, Rumah-rumah Allah yang mulia, manusia-manusia yang sedang mengagungkan Asma Allah pun tak luput mereka terjang.

Tak sanggup kubayangkan bagaimana jalan pikiran orang-orang zaman sekarang. Mereka senang gembira di tengah malam tanpa tahu bahwa saudaranya susah gempita diterjang ratusan roket menghancurkan. Oh palestina, cukuplah kau meradang, janganlah kau terus seperti ini. Biarlah kita serahkan semuanya pada Allah yang maha kuasa, Yang Maha Kuat lagi maha Bijaksana.

Pikiranku melayang, membayangkan kondisi di salah satu negeri. Negeri para nabi digempur dari darat, laut, dan udara. Dentuman keras bukan suara kembang api, tapi bom asli. Kilauan cahaya bukan warna-warni kembang api, tapi kilauan bom dari pesawat tempur dan tank tempur. Disaat manusia berpesta pora, mereka di blokade dari berbagai sisi bahkan negara tetangga bersekongkol menutup perbatasan sebagai jalur bantuan. Disaat uang dan makanan dihambur-hamburkan pada malam ini, mereka tak berdaya hingga rumah sakit kehabisan stok obat, anak-anak dan keluarga kelaparan.
Sungguh tak adil. Orang yang menyerang dianggap pahlawan, orang yang bertahan dianggap teroris. Persekongkolan busuk yang nyata didepan mata. Sekitar 400 syahid dipanggil Allah, beberapa keluarga musnah tanpa generasi, bangunan porak poranda, bahkan rumah Allah pun diluluh lantakkan dengan berbagai dalih. Tangisan duka menyelimuti ibu-ibu yang kehilangan anaknya, tangisan luka menghiasi tiap jengkal tanah Gaza. Kekecaman ini kian menunjukkan arogansi umat yang terlaknat, umat yang selalu membuat ulah disaat Allah mengirimkan nabi dan rasul pilihan.
Darah dan air mata dari pelosok Gaza. Tangis dan luka itu takkan menyurutkan perjuangan merebut hak rakyat Palestina. Sekecil apapun bantuan kita, baik doa dan finansial. Semoga Allah memberi balasan yang setimpal dan memberikan kekuatan kepada saudara-saudara kita di Palestina. Untuk saudaraku di Gaza, Allahlah tujuan akhir kita.

Rabu, 31 Desember 2008

Palestina Meradang

Keterpurukan Kita

Jalur Gaza, tempatnya para pejuang....
Jalur Gaza, disana kita terdiam....
Jalur Gaza, kaulah jalur ke Surga....

tapi entah mengapa... kau begitu tak berdaya, ketika kaum kafir menhujanimu dengan roket-roket dahsyat tak henti-henti...

ratusan muslim gugur di medan ini...
membuat hatiku tak kunjung hangat, setelah hujan lebat musuh menghujani....

lihatlah wahai sahabat,,,, lihatlah wahai muslim.... di dunia yang aneh ini....


kalian bersorak sorai merayakan tahun baru masehi yang katanya indah itu, padahal kalian merayakan kehancuran agamamu. Kau membuat dunia makin kacau. Palestina berduka, Palestina berjuang, Palestina meradang, tapi engkau bersenang-senang menghabiskan malam.

Hati agaknya terlalu dalam menyikapi, tapi itu semua tidaklah cukup tanpa perbuatan yang berarti.

Semoga diri selalu dilindungi oleh ilahi yang maha mengetahui. Palestina diserang tapi kau tak kunjung bangun. Bukalah matamu wahai muslim, bukalah telingamu wahai muslim, bukalah pintu hatimu wahai muslim.

kafir berbangga hati menghancurkanmu, menghancurkan akhlak dan pemikiranmu dengan tahun barunya, menghacurkan tubuh-tubuh muslim dengan roket-roketnya.

wahai kaum kafir, tunggulah muslim tidak lemah. Muslim punya ALLAH yang siap melalapmu.

Wahai MUSLIM, kuatkan imanmu, percayalah akan pertolongan Allah, tapi pertolongan Allah tak akan diberikan dengan harga. Tapi dengan perjuangan, dengan pemikiran kritismu terhadap tahun baru yang menyesatkan itu.

semoga bermanfaat wahai sahabat.

Jumat, 05 Desember 2008

Al-qur'an 100000000 % kalam illahi

Marilah kita mencoba membuat puisi. Tapi dengan dua syarat :Tatanan kalimat terdengar mempunyai irama yang sangat khasSetiap kalimat harus memberikan makna mendalam buat kehidupanBisa? Atau sulit? Luar biasa sulit? Atau malah mustahil?Memang wajar terasa sulit. Bahkan terasa mustahil. Kalau kita amati puisi zaman Pujangga Baru (Abdul Muis, Armin Pane dkk, tahun 1930-an), puisi umumnya berirama khas, sangat indah, tapi maknanya biasa saja. Sekedar berdendang, bukan suatu ajaran atau uraian masalah yang jelas maksudnya. Sebaliknya, pada zaman Kemerdekaan (Chairil Anwar dkk. pasca Proklamasi 1945), puisi sangat bermakna, sebagai bentuk ungkapan perjuangan melawan Belanda yang sangat membekas dalam, serta memberi semangat bagi para pejuang, tapi sama sekali tak peduli pada irama, bahkan tampaknya “tak sempat” memikirkan irama.Tapi sebenarnya untaian kalimat yang memenuhi dua syarat itu bisa kita dapatkan. Bahkan bertebaran. Mari kita lihat :Qul huwallahu ahadAllahush shomadLam yalid walam yuuladWa lam yakun-lahu kufuwan ahad(Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.)Itulah surat Al-Ikhlas [Surat no 112]. Kita lihat iramanya yang sangat teratur. Maknanya juga jelas karena berisi keterangan tentang Allah SWT, bukan sekedar berdendang.Umumnya surat dalam Qur’an memang seperti itu, berirama dan bermakna. Kita lihat surat An-Naas [114] (berakhiran nas, nas, nas, nas, nas, nas; berisi keterangan tentang Allah). Atau surat Al-Ma’un [107] (berakhiran in, im, in, in, un, un, un; berisi keterangan tentang siapa saja yang mendustakan agama). Atau surat Al-‘Ashr [103] (berakhiran ashr, usr, abr; berisi arti penting waktu). Surat At-Takatsur [102] (berakhiran ur, ir, un, un, in, im, in, im; berisi tentang tidak terpujinya sikap bermegah-megahan). Semuanya juga memberikan arti yang dalam buat hidup manusia.Kita bisa menirunya?Kiranya kita tak perlu kecewa tak bisa menirunya. Orang Arab di zaman Nabi Muhammad saw juga tak bisa menirunya. Padahal saat itu adalah masa keemasan syair di tanah Arab. Mereka mencoba menirunya tapi tak pernah bisa. Bahkan Walid bin Mughirah, pakar syair paling ternama, gagal menirunya.Kita barangkali heran mengapa mereka ramai-ramai meniru Qur’an. Itu karena saat itu memang Qur’an menantang seluruh pihak untuk menirunya, “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka….” (TQS. Al-Baqarah [2] : 23-24).Allah SWT memberikan tantangan itu untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu “asli” dari-Nya, tak ada seorang pun manusia di seluruh penjuru bumi ini yang mampu menirunya, walau satu surat saja. Bahwa dari zaman Nabi sampai hari kiamat tak pernah ada, dan tak akan pernah ada, yang bisa menirunya.Sekali lagi, kita bisa menirunya? Bisa? Bisa…?Padahal untuk menjawab tantangan itu sebenarnya hanya cukup satu surat saja. Sebut saja surat pendek, yang terdiri dari tiga atau empat ayat, yang ayatnya juga pendek-pendek, seperti surat Al-Ikhlash atau Al-‘Ashr. Sementara itu, Qur’an itu sangat panjang, terdiri dari lebih enam ribu ayat, dan banyak ayatnya yang sangat panjang, seperti ayat terakhir surat Al-Baqarah.Jadi, mungkinkah Al-Qur’an itu buatan manusia?Orang Arab di zaman Nabi tak ada yang bisa. Dan Nabi Muhammad saw hanyalah satu orang di antara mereka. Beliau bahkan tak bisa membaca dan menulis. Pertanyaan bagi kita: Mungkinkah Qur’an buatan bangsa Arab? Mungkinkah buatan Muhammad? Mungkinkah Muhammad bukan Rasul Allah? Mungkinkah Muhammad pembohong? Mungkinkah ia mempunyai kejeniusan ribuan kali lipat dari penduduk pada umumnya sehingga ia mampu membuat enam ribuan ayat yang sebagiannya sangat panjang, sementara kaumnya membuat tiga ayat pendek saja tak bisa?Memang ada tuduhan dari orang Arab di zaman Nabi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an disadur dari orang asing oleh beliau. Tapi Al-Qur’an dalam hal ini menjawab, “…padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (non arab), sedangkan Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab yang jelas.” (TQS. An-Nahl [16]: 103).Pertanyaan bagi kita: Mungkinkah Al-Qur’an bikinan dari orang non arab, padahal Qur’an itu berbahasa Arab, sedangkan orang Arab saja tak ada yang bisa membuatnya?Sekali lagi, mungkinkah Al-Qur’an itu buatan manusia?Tentang fenomena Al-Qur’an ini, masih ada dua hal lagi yang perlu kita soroti.Pertama, Al-Qur’an sering diturunkan saat orang bertanya-tanya pada Nabi saw tentang suatu masalah atau terkait dengan sebuah kejadian khusus. Semisal tentang boleh tidaknya berperang pada bulan haram, sikap seorang suami pada istrinya, atau pertanyaan-pertanyaan dari orang kafir yang segera butuh jawaban. Saat itulah ayat-ayat Qur’an hadir, menjawab masalah secara tuntas, memuaskan akal dan menentramkan hati. Sekarang mari kita bayangkan, kita harus membuat syair yang selain bermakna dan berirama, juga harus menjawab masalah secara sempurna dalam waktu cepat. Bisakah? (Padahal dua syarat saja sudah membuat kita pusing).Kedua, Nabi saw juga menyampaikan sabda beliau (hadits) kepada para sahabat. Gaya bahasa hadits sangat berbeda dengan Qur’an. Hadits mempunyai gaya bahasa tak beda dengan gaya bicara penduduk Arab lainnya. Dengan melihat fakta ini, mungkinkah Qur’an buatan Nabi? Kita bandingkan dengan anak-anak kecil di sekitar kita yang menyanyikan lagu dari grup musik Radja, Dewa atau Ratu, disamping berbicara macam-macam dengan temannya. Kiranya kita bisa menyimpulkan apakah ungkapan dalam nyanyian itu sama dengan kata-kata dalam pembicaraan mereka ataukah beda. Kita juga bisa menyimpulkan apakah mungkin anak-anak itu yang membuat nyanyian itu. (Ini bukan berarti hadits diragukan. Ini hanya bicara betapa gaya bahasa Qur’an itu terasa sangat khas, berbeda dengan gaya bicara manusia umumnya. Tentang keyakinan pada hadits, Al-Qur’an sendiri memerintahkan kita mempercayainya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (TQS. Al-Hasyr [59] : 7)).Dikisahkan, Khalid bin Walid, panglima perang Quraisy yang menghancurkan pasukan muslim dalam Perang Uhud, sering kali ragu akan posisinya yang memusuhi umat Islam. Ia sering kali memikirkan keajaiban Qur’an. Amru bin Ash, yang mengejar-ngejar umat Islam yang hijrah ke Ethiopia, justru ragu akan sikapnya setelah mendengar Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan Qur’an pada Najasyi, Raja Ethiopia. Abu Sufyan, pemimpin Quraisy yang mengejar umat Islam ke istana Romawi, mulai berpikir kebenaran Islam dalam adu debatnya dengan perwakilan muslim di hadapan Heraklius, Kaisar Romawi. Kita tahu, ketiga tokoh utama Quraisy itu akhirnya masuk Islam.Mungkinkah Qur’an buatan manusia?......

Rabu, 19 November 2008

Hidup yang Bukan Main

Bulan Ramadhan telah berlalu, seminggu lamanya ia meninggalkan daku yang haus akan pertemuan kembali dengannya. Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terindah yang pernah kucecap selama usiaku. Agaknya, aku sudah sedikit lebih mengerti tentang Islam di umurku yang menginjak 14 tahun ini. Memang umur yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Bagiku umur bukanlah masalah “Hidayah Allah” turun kepada seorang hamba.
Aku berpikir,”Apa sich tugas dan tujuan seorang hamba?” Pikiran ini selalu menghantuiku diwaktu malamku dan mengikutiku diwaktu siangku. Aku tak sanggup menggapai ilmunya Allah mengenai ini. Tak kusangka Allah memberiku sesuatu yang aku maksud. Kulihat suatu buku berjudul ‘Pribadi Penuh Arti’ karya Amru Muhammad Khalid. Karna asbab buku itu, Alhamdulillah aku bisa gapai “Hidayah Allah” dan takkan kulepas dalam sanubari kalbuku.
Minggu itu adalah minggu yang berat. Banyak sekali badai yang menimpa muka dan hatiku. Tak kupungkiri bahwa badai itu datang dari sang Maha Kuat nan Maha Perkasa yang Kuasanya meliputi Langit dan Bumi dan menguasai waktu lampau, sekarang dan Hari Pembalasan. Tak dapat lagi aku menggambarkan bertapa agungnya Allah dengan nama-nama yang sempit ini ketimbang kuasanya yang Maha Luas.
Teguran Allah yang menimpaku memang sebagian orang menganggapnya sebagai keteledoranku semata. Bagiku terserah apa kata orang tapi yang penting ‘Jadilah Dirimu Sendiri’. Badai itu bagaikan suatu tamparan keras bagi daku yang tak sekuat pribadi para Nabi yang menganggapnya itu cuma kibasan ekor nyamuk (yah kalau punya ekor).
Sebulan lalu salah seorang teman sekolah menawariku membeli sebuah helm darinya (memang agak gak nyambung tapi baca aja ampe keler). Helm itu dijualnya dengan harga $120.000 (hehehe sebenernya sieh Rp). Helm tu harga aslinya Rp220.000. Saat itu hari Jum’at di bulan Ramdhan. Kupacu sepeda motorku sekencang mungkin untuk sampai di masjidnya SMP 1 karena waktu Sholat Jum’at sudah memepet.
Tapi anehnya niatku ke SMP 1 bukanlah untuk Sholat Jum’at tapi aku berniat untuk sombong pada dunia dan berkata,”Niech, Arief punya helm keren!” (hehehe sombong bener padahal yang pantas sombong tu Allah karena dialah yang punya Jagat Raya nieh). Sholat Jum’atpun berhasil kutunaikan dan tiba-tiba saat aku lihat kearah motorku, tak kutemui lagi helm yang membuatku sombong tadi. Astaghfirullah langsung aja aku koreksi diriku “Apakah ada yang salah dari diriku?” padahal disebelah SMP 1 itu ada kantor Polisi n rumahku amat jauh dari SMP 1. Sepanjang jalan aku hanya diam seribu bahasa tak bertutur apa-apa. Hanya Allah yang tau apa isi hati hambanya. Walau tak berkata aku berbisik halus dalam kalbu,”Mengapa aku seperti ini?”
Sebelumnya juga aku kehilangan uang $100.000 (hehehe kembali jadi Rp koq), lalu dioper kepada kehilangan berikut, yah pemain bernomor punggung “Kehilangan Sepatu” membawa bola yang berlumur racun…. dan bola tepat mengenai hatiku… (hehehehehe kya komentator bola aja). And then kembali kehilangan, tapi inilah badai besar itu.
Begini, saya jelaskan dulu kronologinya. Saya mempunyai target untuk bisa, paling engga cuap-cuaplah pake Bahasa Inggris. Setiap waktu luang kuhabisakan baca buku yang ada Bahasa Inggrisnya. Setiap ada kata-kata baru kucatat di belakang buku. Lalu waktu istirahatnya mencari di Pepustakaan kata-kata baru itu.
Setelah pulang ke rumah catatan kosa-kata baru saya catat kembali di HandPhone saya. Alhamdulillah HP saya yah support buat Note (N-Gage QD). Saya sangat senang dengan HP entu. Ia bagaikan bagian dari diriku yang tak mungkin dapat dipisahkan (hehehehe, padahal semua yang kita kira tak dapat berpisah pasti akan berpisah, air saja berpisah dari minyak, padahal mereka sama-sama air).
Mungkin Allah agak cemburu dengan rasa cintaku yang terlalu berlebihan dengan HP itu. Sehingga di suatu siang yang panas dan terik mentari menyinari muka bumi dengan dahsyatnya, sampai-sampai dimana-mana ada kereta (maksudnya kereta manusia yang mengantre untuk membeli minuman dingin). Diriku tak lagi mendapati Handphone yang dulunya kubanggakan itu berada diatas tempat biasanya. Ia telah hilang dicuri orang yang masuk kamarku. “Ahhhh…. kesal…” Ingin sekali aku mengejarnya kembali, tapi apa daya. Waktu malamnya diriku bagai orang yang mabuk dan jalannya sempoyongan tak tentu arah. Lalu aku terdiam dan menangis seraya membaca sepotong ayat:
Ayat Kursi255.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Alhamdulillah berkat rahmat Allah dan hidayahnya aku telah mengerti,” Apa arti Iman dan Cinta yang sebenarnya itu. Merujuk pada sebuah hadist bahwa cintailah segala sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi musuhmu, bencilah sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi kekasihmu. Cintalah Ummat Manusia semata-mata karena yang menciptakannya bukannya yang diciptakannya. Harta dunia, istri-istri (klo blom punya yah pacar lah) dan anak-anak (klo blom punya yah adek mungkin ato kakak ato nenek buyut, mamah-papah).

Melambatlah Wahai Sahabat

Saudaraku, izinkan saya menceritakan sebuah kisah:Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap.Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.“Buk….!”Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.“Cittt….” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos dibengkel untuk memperbaikinya.“Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.“Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.”Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.“Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak.Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.”Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya.Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”Saudaraku, seperti kendaraan, hidup akan terus melaju dari waktu ke waktu. Detik-detik berlalu menyeret kita ke akhir hidup ini.Dan kita adalah pengusaha muda tadi. Kita fokus dengan apa yang kita kejar. Kita nikmati hasil usaha kita sendiri. Kita bahagia sendirian. Kita pacu kendaraan kita dengan cepat. Kita injak pedal hidup kita dengan mantap untuk meraih tujuan di depan kita secepatnya. Hingga tak jarang kita lupa sekeliling kita.Saat kita melaju ada banyak hal yang terjadi di kanan kiri kita. Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Banyak hal yang sebenarnya adalah peringatan buat kita. Namun, kita melaju terlalu cepat. Kita terlalu fokus terhadap keinginan kita. Hingga kita lupa segalanya.Saudaraku, Allah tak pernah berhenti berbicara kepada kita. Dia berbicara lewat lidah orang-orang sekeliling kita. Ia berbicara lewat kejadian-kejadian di alam semesta. Bahkan, ia berbicara langsung kepada nurani kita. Namun, seringkali kita terlalu sibuk dengan diri kita dan tak punya waktu untuk sejenak mendengar ujaran-Nya. Maka dengarkanlah firman-Nya ini:“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar,dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata “Kami mendengarkan”, tapi sebenarnya mereka tidak (mau) mendengar.Sesungguhnya seburuk-buruknya mahluk di sisi Allah ialah; orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.kalau Sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal 20-24)Sudahkah kita berusaha memfungsikan pendengaran kita dengan sebaik-baiknya? Sudahkah kita mendengar firman-firman Allah dalam al-Quran? Atau suara-suara panggilan yang hendak meminta bantuan kita? Atau ajakan-ajakan agar kita lebih peduli kepada sekeliling kita? Ataukah kita akan tetap melaju cepat sampai seseorang melemparkan batunya ke arah kita? Atau sampai Allah sendiri yang melemparkan batu-Nya?Sudah selaraskah hidup kita dengan hidup orang-orang di sekeliling kita? Mungkin, kita telah menjadi orang yang terbaik bagi diri kita sendiri. Namun, sudahkah kita menjadi orang yang terbaik bagi orang-orang di sekeliling kita? Bagi orang-orang di sekitar kita.Saudaraku, sudah terlalu banyak orang-orang egois di negeri kita. Sudah terlalu banyak orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak orang yang memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Maka, janganlah kita menambah jumlah mereka.“Strongman stand for his life, but the stronger stand for others.”Saudaraku, orang kuat adalah orang yang mampu berdiri sendiri dan menanggung beban hidupnya sendiri. Ia adalah orang yang tak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Namun, ada yang lebih kuat dari orang kuat. Mereka adalah orang-orang yang mampu menanggung beban hidup orang lain.Saudaraku, berjalanlah lebih lambat…! Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan kita. Siapa tahu ada orang yang hendak memberikan kebaikan kepada kita. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berharga untuk kita bawa ke hadapan Allah swt