Bulan Ramadhan telah berlalu, seminggu lamanya ia meninggalkan daku yang haus akan pertemuan kembali dengannya. Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terindah yang pernah kucecap selama usiaku. Agaknya, aku sudah sedikit lebih mengerti tentang Islam di umurku yang menginjak 14 tahun ini. Memang umur yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Bagiku umur bukanlah masalah “Hidayah Allah” turun kepada seorang hamba.
Aku berpikir,”Apa sich tugas dan tujuan seorang hamba?” Pikiran ini selalu menghantuiku diwaktu malamku dan mengikutiku diwaktu siangku. Aku tak sanggup menggapai ilmunya Allah mengenai ini. Tak kusangka Allah memberiku sesuatu yang aku maksud. Kulihat suatu buku berjudul ‘Pribadi Penuh Arti’ karya Amru Muhammad Khalid. Karna asbab buku itu, Alhamdulillah aku bisa gapai “Hidayah Allah” dan takkan kulepas dalam sanubari kalbuku.
Minggu itu adalah minggu yang berat. Banyak sekali badai yang menimpa muka dan hatiku. Tak kupungkiri bahwa badai itu datang dari sang Maha Kuat nan Maha Perkasa yang Kuasanya meliputi Langit dan Bumi dan menguasai waktu lampau, sekarang dan Hari Pembalasan. Tak dapat lagi aku menggambarkan bertapa agungnya Allah dengan nama-nama yang sempit ini ketimbang kuasanya yang Maha Luas.
Teguran Allah yang menimpaku memang sebagian orang menganggapnya sebagai keteledoranku semata. Bagiku terserah apa kata orang tapi yang penting ‘Jadilah Dirimu Sendiri’. Badai itu bagaikan suatu tamparan keras bagi daku yang tak sekuat pribadi para Nabi yang menganggapnya itu cuma kibasan ekor nyamuk (yah kalau punya ekor).
Sebulan lalu salah seorang teman sekolah menawariku membeli sebuah helm darinya (memang agak gak nyambung tapi baca aja ampe keler). Helm itu dijualnya dengan harga $120.000 (hehehe sebenernya sieh Rp). Helm tu harga aslinya Rp220.000. Saat itu hari Jum’at di bulan Ramdhan. Kupacu sepeda motorku sekencang mungkin untuk sampai di masjidnya SMP 1 karena waktu Sholat Jum’at sudah memepet.
Tapi anehnya niatku ke SMP 1 bukanlah untuk Sholat Jum’at tapi aku berniat untuk sombong pada dunia dan berkata,”Niech, Arief punya helm keren!” (hehehe sombong bener padahal yang pantas sombong tu Allah karena dialah yang punya Jagat Raya nieh). Sholat Jum’atpun berhasil kutunaikan dan tiba-tiba saat aku lihat kearah motorku, tak kutemui lagi helm yang membuatku sombong tadi. Astaghfirullah langsung aja aku koreksi diriku “Apakah ada yang salah dari diriku?” padahal disebelah SMP 1 itu ada kantor Polisi n rumahku amat jauh dari SMP 1. Sepanjang jalan aku hanya diam seribu bahasa tak bertutur apa-apa. Hanya Allah yang tau apa isi hati hambanya. Walau tak berkata aku berbisik halus dalam kalbu,”Mengapa aku seperti ini?”
Sebelumnya juga aku kehilangan uang $100.000 (hehehe kembali jadi Rp koq), lalu dioper kepada kehilangan berikut, yah pemain bernomor punggung “Kehilangan Sepatu” membawa bola yang berlumur racun…. dan bola tepat mengenai hatiku… (hehehehehe kya komentator bola aja). And then kembali kehilangan, tapi inilah badai besar itu.
Begini, saya jelaskan dulu kronologinya. Saya mempunyai target untuk bisa, paling engga cuap-cuaplah pake Bahasa Inggris. Setiap waktu luang kuhabisakan baca buku yang ada Bahasa Inggrisnya. Setiap ada kata-kata baru kucatat di belakang buku. Lalu waktu istirahatnya mencari di Pepustakaan kata-kata baru itu.
Setelah pulang ke rumah catatan kosa-kata baru saya catat kembali di HandPhone saya. Alhamdulillah HP saya yah support buat Note (N-Gage QD). Saya sangat senang dengan HP entu. Ia bagaikan bagian dari diriku yang tak mungkin dapat dipisahkan (hehehehe, padahal semua yang kita kira tak dapat berpisah pasti akan berpisah, air saja berpisah dari minyak, padahal mereka sama-sama air).
Mungkin Allah agak cemburu dengan rasa cintaku yang terlalu berlebihan dengan HP itu. Sehingga di suatu siang yang panas dan terik mentari menyinari muka bumi dengan dahsyatnya, sampai-sampai dimana-mana ada kereta (maksudnya kereta manusia yang mengantre untuk membeli minuman dingin). Diriku tak lagi mendapati Handphone yang dulunya kubanggakan itu berada diatas tempat biasanya. Ia telah hilang dicuri orang yang masuk kamarku. “Ahhhh…. kesal…” Ingin sekali aku mengejarnya kembali, tapi apa daya. Waktu malamnya diriku bagai orang yang mabuk dan jalannya sempoyongan tak tentu arah. Lalu aku terdiam dan menangis seraya membaca sepotong ayat:
Ayat Kursi255.
Aku berpikir,”Apa sich tugas dan tujuan seorang hamba?” Pikiran ini selalu menghantuiku diwaktu malamku dan mengikutiku diwaktu siangku. Aku tak sanggup menggapai ilmunya Allah mengenai ini. Tak kusangka Allah memberiku sesuatu yang aku maksud. Kulihat suatu buku berjudul ‘Pribadi Penuh Arti’ karya Amru Muhammad Khalid. Karna asbab buku itu, Alhamdulillah aku bisa gapai “Hidayah Allah” dan takkan kulepas dalam sanubari kalbuku.
Minggu itu adalah minggu yang berat. Banyak sekali badai yang menimpa muka dan hatiku. Tak kupungkiri bahwa badai itu datang dari sang Maha Kuat nan Maha Perkasa yang Kuasanya meliputi Langit dan Bumi dan menguasai waktu lampau, sekarang dan Hari Pembalasan. Tak dapat lagi aku menggambarkan bertapa agungnya Allah dengan nama-nama yang sempit ini ketimbang kuasanya yang Maha Luas.
Teguran Allah yang menimpaku memang sebagian orang menganggapnya sebagai keteledoranku semata. Bagiku terserah apa kata orang tapi yang penting ‘Jadilah Dirimu Sendiri’. Badai itu bagaikan suatu tamparan keras bagi daku yang tak sekuat pribadi para Nabi yang menganggapnya itu cuma kibasan ekor nyamuk (yah kalau punya ekor).
Sebulan lalu salah seorang teman sekolah menawariku membeli sebuah helm darinya (memang agak gak nyambung tapi baca aja ampe keler). Helm itu dijualnya dengan harga $120.000 (hehehe sebenernya sieh Rp). Helm tu harga aslinya Rp220.000. Saat itu hari Jum’at di bulan Ramdhan. Kupacu sepeda motorku sekencang mungkin untuk sampai di masjidnya SMP 1 karena waktu Sholat Jum’at sudah memepet.
Tapi anehnya niatku ke SMP 1 bukanlah untuk Sholat Jum’at tapi aku berniat untuk sombong pada dunia dan berkata,”Niech, Arief punya helm keren!” (hehehe sombong bener padahal yang pantas sombong tu Allah karena dialah yang punya Jagat Raya nieh). Sholat Jum’atpun berhasil kutunaikan dan tiba-tiba saat aku lihat kearah motorku, tak kutemui lagi helm yang membuatku sombong tadi. Astaghfirullah langsung aja aku koreksi diriku “Apakah ada yang salah dari diriku?” padahal disebelah SMP 1 itu ada kantor Polisi n rumahku amat jauh dari SMP 1. Sepanjang jalan aku hanya diam seribu bahasa tak bertutur apa-apa. Hanya Allah yang tau apa isi hati hambanya. Walau tak berkata aku berbisik halus dalam kalbu,”Mengapa aku seperti ini?”
Sebelumnya juga aku kehilangan uang $100.000 (hehehe kembali jadi Rp koq), lalu dioper kepada kehilangan berikut, yah pemain bernomor punggung “Kehilangan Sepatu” membawa bola yang berlumur racun…. dan bola tepat mengenai hatiku… (hehehehehe kya komentator bola aja). And then kembali kehilangan, tapi inilah badai besar itu.
Begini, saya jelaskan dulu kronologinya. Saya mempunyai target untuk bisa, paling engga cuap-cuaplah pake Bahasa Inggris. Setiap waktu luang kuhabisakan baca buku yang ada Bahasa Inggrisnya. Setiap ada kata-kata baru kucatat di belakang buku. Lalu waktu istirahatnya mencari di Pepustakaan kata-kata baru itu.
Setelah pulang ke rumah catatan kosa-kata baru saya catat kembali di HandPhone saya. Alhamdulillah HP saya yah support buat Note (N-Gage QD). Saya sangat senang dengan HP entu. Ia bagaikan bagian dari diriku yang tak mungkin dapat dipisahkan (hehehehe, padahal semua yang kita kira tak dapat berpisah pasti akan berpisah, air saja berpisah dari minyak, padahal mereka sama-sama air).
Mungkin Allah agak cemburu dengan rasa cintaku yang terlalu berlebihan dengan HP itu. Sehingga di suatu siang yang panas dan terik mentari menyinari muka bumi dengan dahsyatnya, sampai-sampai dimana-mana ada kereta (maksudnya kereta manusia yang mengantre untuk membeli minuman dingin). Diriku tak lagi mendapati Handphone yang dulunya kubanggakan itu berada diatas tempat biasanya. Ia telah hilang dicuri orang yang masuk kamarku. “Ahhhh…. kesal…” Ingin sekali aku mengejarnya kembali, tapi apa daya. Waktu malamnya diriku bagai orang yang mabuk dan jalannya sempoyongan tak tentu arah. Lalu aku terdiam dan menangis seraya membaca sepotong ayat:
Ayat Kursi255.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Alhamdulillah berkat rahmat Allah dan hidayahnya aku telah mengerti,” Apa arti Iman dan Cinta yang sebenarnya itu. Merujuk pada sebuah hadist bahwa cintailah segala sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi musuhmu, bencilah sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi kekasihmu. Cintalah Ummat Manusia semata-mata karena yang menciptakannya bukannya yang diciptakannya. Harta dunia, istri-istri (klo blom punya yah pacar lah) dan anak-anak (klo blom punya yah adek mungkin ato kakak ato nenek buyut, mamah-papah).
Alhamdulillah berkat rahmat Allah dan hidayahnya aku telah mengerti,” Apa arti Iman dan Cinta yang sebenarnya itu. Merujuk pada sebuah hadist bahwa cintailah segala sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi musuhmu, bencilah sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi kekasihmu. Cintalah Ummat Manusia semata-mata karena yang menciptakannya bukannya yang diciptakannya. Harta dunia, istri-istri (klo blom punya yah pacar lah) dan anak-anak (klo blom punya yah adek mungkin ato kakak ato nenek buyut, mamah-papah).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar