Ranking Blog semesthidayah

Rabu, 19 November 2008

Hidup yang Bukan Main

Bulan Ramadhan telah berlalu, seminggu lamanya ia meninggalkan daku yang haus akan pertemuan kembali dengannya. Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terindah yang pernah kucecap selama usiaku. Agaknya, aku sudah sedikit lebih mengerti tentang Islam di umurku yang menginjak 14 tahun ini. Memang umur yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Bagiku umur bukanlah masalah “Hidayah Allah” turun kepada seorang hamba.
Aku berpikir,”Apa sich tugas dan tujuan seorang hamba?” Pikiran ini selalu menghantuiku diwaktu malamku dan mengikutiku diwaktu siangku. Aku tak sanggup menggapai ilmunya Allah mengenai ini. Tak kusangka Allah memberiku sesuatu yang aku maksud. Kulihat suatu buku berjudul ‘Pribadi Penuh Arti’ karya Amru Muhammad Khalid. Karna asbab buku itu, Alhamdulillah aku bisa gapai “Hidayah Allah” dan takkan kulepas dalam sanubari kalbuku.
Minggu itu adalah minggu yang berat. Banyak sekali badai yang menimpa muka dan hatiku. Tak kupungkiri bahwa badai itu datang dari sang Maha Kuat nan Maha Perkasa yang Kuasanya meliputi Langit dan Bumi dan menguasai waktu lampau, sekarang dan Hari Pembalasan. Tak dapat lagi aku menggambarkan bertapa agungnya Allah dengan nama-nama yang sempit ini ketimbang kuasanya yang Maha Luas.
Teguran Allah yang menimpaku memang sebagian orang menganggapnya sebagai keteledoranku semata. Bagiku terserah apa kata orang tapi yang penting ‘Jadilah Dirimu Sendiri’. Badai itu bagaikan suatu tamparan keras bagi daku yang tak sekuat pribadi para Nabi yang menganggapnya itu cuma kibasan ekor nyamuk (yah kalau punya ekor).
Sebulan lalu salah seorang teman sekolah menawariku membeli sebuah helm darinya (memang agak gak nyambung tapi baca aja ampe keler). Helm itu dijualnya dengan harga $120.000 (hehehe sebenernya sieh Rp). Helm tu harga aslinya Rp220.000. Saat itu hari Jum’at di bulan Ramdhan. Kupacu sepeda motorku sekencang mungkin untuk sampai di masjidnya SMP 1 karena waktu Sholat Jum’at sudah memepet.
Tapi anehnya niatku ke SMP 1 bukanlah untuk Sholat Jum’at tapi aku berniat untuk sombong pada dunia dan berkata,”Niech, Arief punya helm keren!” (hehehe sombong bener padahal yang pantas sombong tu Allah karena dialah yang punya Jagat Raya nieh). Sholat Jum’atpun berhasil kutunaikan dan tiba-tiba saat aku lihat kearah motorku, tak kutemui lagi helm yang membuatku sombong tadi. Astaghfirullah langsung aja aku koreksi diriku “Apakah ada yang salah dari diriku?” padahal disebelah SMP 1 itu ada kantor Polisi n rumahku amat jauh dari SMP 1. Sepanjang jalan aku hanya diam seribu bahasa tak bertutur apa-apa. Hanya Allah yang tau apa isi hati hambanya. Walau tak berkata aku berbisik halus dalam kalbu,”Mengapa aku seperti ini?”
Sebelumnya juga aku kehilangan uang $100.000 (hehehe kembali jadi Rp koq), lalu dioper kepada kehilangan berikut, yah pemain bernomor punggung “Kehilangan Sepatu” membawa bola yang berlumur racun…. dan bola tepat mengenai hatiku… (hehehehehe kya komentator bola aja). And then kembali kehilangan, tapi inilah badai besar itu.
Begini, saya jelaskan dulu kronologinya. Saya mempunyai target untuk bisa, paling engga cuap-cuaplah pake Bahasa Inggris. Setiap waktu luang kuhabisakan baca buku yang ada Bahasa Inggrisnya. Setiap ada kata-kata baru kucatat di belakang buku. Lalu waktu istirahatnya mencari di Pepustakaan kata-kata baru itu.
Setelah pulang ke rumah catatan kosa-kata baru saya catat kembali di HandPhone saya. Alhamdulillah HP saya yah support buat Note (N-Gage QD). Saya sangat senang dengan HP entu. Ia bagaikan bagian dari diriku yang tak mungkin dapat dipisahkan (hehehehe, padahal semua yang kita kira tak dapat berpisah pasti akan berpisah, air saja berpisah dari minyak, padahal mereka sama-sama air).
Mungkin Allah agak cemburu dengan rasa cintaku yang terlalu berlebihan dengan HP itu. Sehingga di suatu siang yang panas dan terik mentari menyinari muka bumi dengan dahsyatnya, sampai-sampai dimana-mana ada kereta (maksudnya kereta manusia yang mengantre untuk membeli minuman dingin). Diriku tak lagi mendapati Handphone yang dulunya kubanggakan itu berada diatas tempat biasanya. Ia telah hilang dicuri orang yang masuk kamarku. “Ahhhh…. kesal…” Ingin sekali aku mengejarnya kembali, tapi apa daya. Waktu malamnya diriku bagai orang yang mabuk dan jalannya sempoyongan tak tentu arah. Lalu aku terdiam dan menangis seraya membaca sepotong ayat:
Ayat Kursi255.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Alhamdulillah berkat rahmat Allah dan hidayahnya aku telah mengerti,” Apa arti Iman dan Cinta yang sebenarnya itu. Merujuk pada sebuah hadist bahwa cintailah segala sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi musuhmu, bencilah sesuatu sewajarnya siapa tau ia bisa menjadi kekasihmu. Cintalah Ummat Manusia semata-mata karena yang menciptakannya bukannya yang diciptakannya. Harta dunia, istri-istri (klo blom punya yah pacar lah) dan anak-anak (klo blom punya yah adek mungkin ato kakak ato nenek buyut, mamah-papah).

Melambatlah Wahai Sahabat

Saudaraku, izinkan saya menceritakan sebuah kisah:Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap.Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.“Buk….!”Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.“Cittt….” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos dibengkel untuk memperbaikinya.“Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.“Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.”Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.“Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak.Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.”Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya.Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”Saudaraku, seperti kendaraan, hidup akan terus melaju dari waktu ke waktu. Detik-detik berlalu menyeret kita ke akhir hidup ini.Dan kita adalah pengusaha muda tadi. Kita fokus dengan apa yang kita kejar. Kita nikmati hasil usaha kita sendiri. Kita bahagia sendirian. Kita pacu kendaraan kita dengan cepat. Kita injak pedal hidup kita dengan mantap untuk meraih tujuan di depan kita secepatnya. Hingga tak jarang kita lupa sekeliling kita.Saat kita melaju ada banyak hal yang terjadi di kanan kiri kita. Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Banyak hal yang sebenarnya adalah peringatan buat kita. Namun, kita melaju terlalu cepat. Kita terlalu fokus terhadap keinginan kita. Hingga kita lupa segalanya.Saudaraku, Allah tak pernah berhenti berbicara kepada kita. Dia berbicara lewat lidah orang-orang sekeliling kita. Ia berbicara lewat kejadian-kejadian di alam semesta. Bahkan, ia berbicara langsung kepada nurani kita. Namun, seringkali kita terlalu sibuk dengan diri kita dan tak punya waktu untuk sejenak mendengar ujaran-Nya. Maka dengarkanlah firman-Nya ini:“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar,dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata “Kami mendengarkan”, tapi sebenarnya mereka tidak (mau) mendengar.Sesungguhnya seburuk-buruknya mahluk di sisi Allah ialah; orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.kalau Sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal 20-24)Sudahkah kita berusaha memfungsikan pendengaran kita dengan sebaik-baiknya? Sudahkah kita mendengar firman-firman Allah dalam al-Quran? Atau suara-suara panggilan yang hendak meminta bantuan kita? Atau ajakan-ajakan agar kita lebih peduli kepada sekeliling kita? Ataukah kita akan tetap melaju cepat sampai seseorang melemparkan batunya ke arah kita? Atau sampai Allah sendiri yang melemparkan batu-Nya?Sudah selaraskah hidup kita dengan hidup orang-orang di sekeliling kita? Mungkin, kita telah menjadi orang yang terbaik bagi diri kita sendiri. Namun, sudahkah kita menjadi orang yang terbaik bagi orang-orang di sekeliling kita? Bagi orang-orang di sekitar kita.Saudaraku, sudah terlalu banyak orang-orang egois di negeri kita. Sudah terlalu banyak orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak orang yang memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Maka, janganlah kita menambah jumlah mereka.“Strongman stand for his life, but the stronger stand for others.”Saudaraku, orang kuat adalah orang yang mampu berdiri sendiri dan menanggung beban hidupnya sendiri. Ia adalah orang yang tak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Namun, ada yang lebih kuat dari orang kuat. Mereka adalah orang-orang yang mampu menanggung beban hidup orang lain.Saudaraku, berjalanlah lebih lambat…! Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan kita. Siapa tahu ada orang yang hendak memberikan kebaikan kepada kita. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berharga untuk kita bawa ke hadapan Allah swt